Arsip Kategori: Politik Luar Negeri

INILAH KEBIJAKAN YANG DIKELUARKAN DALAM MENANGANI PANDEMI COVID – 19 DI AS

Sudad bergantinya presiden di AS membuat penanganan untuk COVID – 19 pun pastinya mengalami perubahan. Karena berbeda kepala, tentunya memiliki perbedaan rencana yang akan dilakukan kedepannya untuk masyarakat AS. Peningkatan yang terjadi pada kasus COVID – 19 di AS, membuat masyarakat sangat khawatir dengan keberlangsungan hajat hidup mereka di negeri paman sam itu. Ketika pemerintahan presiden sebelumnya yaitu Trump, yang tidak memberikan penanganan secara maksimal dan terbaik kepada virus corona ini. Memberikan pelonjakan yang cukup tinggi untuk kasus terkait corona ini. Sehingga masyarakat yang mengharapak setelah bergantinya pemimpin, bisa melakukan penanganan terbaik kepada COVID – 19 ini.

Masyarakat yang mengharapkan juga kepemimpinan yang berganti ini bisa membuat kasus ini diutamakan. Agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan, sehingga mereka tidak merasakan khawatir yang berlebihan tentang COVID – 19. AS pernah mendapatkan rekor dunia atas kasus corona yang terjadi itu menginjak angka 100.233, dimana kasusnya ini melalui India dengan angka 97.894 dalam satu harinya di bulan September yang lalu. Biden mengatakan bahwa negara ini akan memasuki musim dingin yang kelas. Mau tidak mau Biden harus mendapatkan warisan krisis yang mungkin lebih buruk. Tentunya dia harus bisa memutar otak agar bisa menangani kasus corona lebih baik dari sebelumnya, ini kebijakan yang dikeluarkan Biden dalam menangani corona.

1.Membuat Tes yang Disediakan Secara Luas

Akan memberlakukan tes yang diedarkan lebih luas lagi. Jadi tes yang disediakan ini akan melewati sebuah program pengembangan tes yang mendapatkan dukungan dari pemerintah. Sehingga dapat meningkatkan produksi dari tes diagnostik dari rumah, juga dia memiliki rencana untuk mendirikan tempat tes dengan cara drive – through yang jumlahnya kurang lebih sepuluh tempat. Yang dimana tempat tes ini akan disebarkan di negara bagian yang lainnya.

Selain itu Biden juga menjanjikan hal yang lainnya, yang akan diberikan untuk menangani COVID – 19 ini. Dimana dia akan memberikan pengujian secara gratis untuk seluru warga Amerika, selain itu orang yang tidak memiliki asuransi pun tetap akan mendapatkan pengujian gratis ini.

2.Memperluas Pesyaratan Masker

Pemerataan dalam penggunaan masker di AS ini memang belum tersebar dengan baik dan benar. Dimana menerapakan persyaratan dan juga hukum yang pasti, sehingga Biden akan menjadikan ini sebagai pertimbangan mandat masker nasional atau nasional mask mandate. Tetapi para ahli hukum disini yang mengutarakan bahwa Biden kemungkinan hanya mempunyai wewenng dalam menerapkan masker di fasilitas federal saja.

Tetapi Biden memiliki rencana lain, yaitu melakukan kerja sama dengan gubernur setempat. Untuk memberlakukan persyaratan masker.

“Pertama, saya akan pergi ke setiap gubernur dan mendesak mereka untuk mengamanatkan penggunaan masker di negara bagian mereka. Dan jika mereka menolak, saya akan pergi ke walikota dan eksekutif daerah dan mendapatkan persyaratan masker lokal di seluruh negeri,” * ucap Biden.

3.Menyesuaikan Lockdown Dengan Kawasan Lokal

Untuk mengeluarkan kebijakn lockdown secara nasional di AS itu menjadi kemungkinan yang tidak mungkin untuk dilakukan. Meskipun begitu Biden akan tetap memberlakukan lockdown pada kawasan tertentu saja.

“Saya akan siap melakukan apa pun untuk menyelamatkan nyawa. Karena kita tidak bisa menggerakkan negara sampai kita mengendalikan virus,” * ucap Biden.

Selain itu dana federal pun akan dialokasikan untuk mengembakan keamanan pada fasilitas yang terbuka. Caranya itu membagikan masker juga mengembangkan ventilasi yang ada di sekolah, serta memberikan penghalang plastik di tempat makan.

TERDAPAT BEBERAPA ALASAN YANG MENJADI LANDASAN KEMENANGAN JOE BIDEN PADA PEMILU AS

Pemilu yang sudah berlangsung di AS dimana terjadi kesengitan pada pertempuran yang terjadi dari masing – masing calon Presiden selanjutnya. Sudah banyak melahirkan berbagai dugaan dan prediksi yang kira – kira siapa yang akan menjadi pemimpin dan orang nomor satu di AS nantinya, lalu pada akhirnya terpilihlah Joe Biden sebagai pemimpin AS pada periode sekarang. Menggeserkan Trump yang memang sebelumnya sudah menjadi presiden AS pada periode sebelumnya, menjadi presiden AS yang tertua sepanjang sejarah tidak menjadikannya harus kendor dalam menjalankan tugas – tugas dan visi misi yang sudah dia janjikan untukwarga AS.

Pemilu yang berada di keadaan pandemi seperti ini memang baru sekali terjadi sekali di satu abad ini, yang dimana banyak menimbulkan beberapa kerusahan yang berada di masyarakat. Tentu ini menjadi hal baru yang didapati dan dijalani oleh negara AS. Meskipun sedang berada dalam kondisi pandemi sekali pun pemilu harus tetap berjalan, dengan segala keterbatasan dan pengurangan kegiatan yang terjadi. Pemilu AS harus tetap diberlangsungkan untuk memilih pemimpin dan orang nomor satu di AS.

Kemenangan yang diterima oleh Biden itu tidak terlepas dari apa yang sudah dilakukan oleh para timnya yang membantu dan bekerja keras dalam mewujudkan mimpi dari Biden. Mendapatkan suara yang memang tidak jauh berbeda dari Trump, menjadikan peraturang yang sengit antara keduanya. Selain itu terdapat beberapa alasan dari kemenangan yang didapatkan oleh Joe Biden menjadi pemimpin AS.

1.Virus Corona

Virus Corona

Sedang mewabahnya virus corona yang menyerang AS ini, sudah memakan banyak korban jiwa. Memang bukan karena Trump, tetapi cara dia dalam mengatasi Covid dirasa gagal dan kurang tanggapan yang diberikannya. Karena total jiwa yang sudah hilang karena corona sejumlah 230.000 jiwa, yang dimana memberikan banyak perubahan kepada politik yang ada di AS.

Menerima poin sebesar 17 persen yang dimana mengungguli Trump, Biden ternyata lebih dipercaya oleh masyarakat untuk bisa mengatasi dan membrantas permasalah dari pandemi COVID – 19 ini. Menjadi point yang tidak terduga dari pandemi corona ini, karena cara trump yang kurang baik dalam menangani COVID – 19 membuat kepercayaan dari masyarakat perlahan – lahan hilang. Ini menjadi peluang yang dimanfaatkan dengan baik oleh Biden dan tim.

2.Kampanye yang Sederhana

Kampanye yang Sederhana

Sebelumnya Biden sudah pernah menyalonkan diri sebagai Presiden tetapi gagal, sebab keterampilannya yang kurang dalam berbicara didepan publik. Menjadikan hal tersebut faktor besar yang menjadi gagal. Tetapi dikesempatannya yang ketiga ini, dia akhrinya bisa mendapatkan peluang dan kemenangannya dalam memnangkan pemilu AS kali ini.

Kali in Biden dan tim yang lebih sabar dan pintar dalam membaca situasi membuatnya dapat mengalahkan Trump. Karena mereka menunggu sebuah momentum yang bisa membuat Trump dapat memakan omongannya sendiri dan Biden juga tim bisa melancarkan strategi yang sudah mereka buat.

3.Pokonya Jangan Trump

Pokonya Jangan Trump

Saat itu seminggu sebelum terselenggaranya pemilu AS, Biden menyebarkan tayangannya di iklan TV yang mengutarakan pesan tentang pertarungan  untuk jiwa Amerika, yang dimana pesan ini sudah pernah dia samapikan ketikan kampanye di tahun lalu, juga pidato pencalonannya yang terjadi ketika bulan Agustus.

Pesan yang dia berikan ini, memliki perhitungan yang sederhana. Tentang Biden yang mengorbankan keberuntungan politik, atas pendapat tentang Trump yang terlau berapi – api juga pemimpin yang dibutuhkan oleh AS.

Itulah beberapa alasan yang atas kemenangan yang diraih oleh Joe Biden.

Apa Itu Electoral College?

Pemilihan presiden Amerika Serikat akan berlangsung sebentar lagi. Merujuk kepada sistem yang berlaku, kandidat yang mendapatkan suara terbanyak dari masyarakat belum tentu memenangkan pertarungan.

Karena, presiden AS tidak dipilih secara langsung oleh masyarakat, melainkan oleh lembaga yang dikenal dengan istilah electoral college atau lembaga terpilih.

Yuk Kenali Lebih Dalam Tentang Electoral College

Saat warga AS datang ke tempat pemungutan suara, sebenarnya mereka memilih orang-orang yang akan duduk dalam electoral college.

Tugas utama electoral college adalah memilih presiden dan wakil presiden. Mereka bekerja setiap empat tahun sekali, yakni beberapa pekan setelah pemungutan suara oleh masyarakat di negara bagian.

Pada saat itulah mereka menjalankan tugas. Anggota electoral college dicalonkan oleh partau politik di tingkat negara bagian.

Mereka biasanya merupakan petinggi partai atau sosok yang berafiliasi dengan kandidat presiden dari partainya.

Di tempat pemungutan suara, pemilih tidak hanya memberikan suara untuk calon presiden, namun juga calon anggota electoral college.

Di surat suara, nama mereka biasanya muncul di bawah nama kandidat presiden. Namun ada juga negara bagian yang tidak mencetak nama calon anggota electoral college.

Jumlah perwakilan setiap negara bagian dalam kelompok ini disesuaikan dengan total populasi di daerah tersebut.

Anggota electoral college berjumlah 538 orang. California merupakan negara bagian dengan perwakilan terbanyak, yaitu 55 orang.

Sementara negara bagian yang jumlah penduduknya sedikit seperti Wyoming, Alaska, dan North Dakota, termasuk Washington DC, diwakilkan oleh minimal 3 orang.

Setiap orang dalam lembaga ini memiliki satu hak suara. Seorang kandidat presiden harus mendapatkan suara terbanyak, 270 atau lebih untuk memenangkan pilihan.

Biasanya, setiap anggota electoral college akan memilih kepada calon presiden yang mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan umum di negara bagian.

Misalnya, jika seorang kandidat dari Partai Republik memenangkan 50,1% suara di Texas, ia akan mendapat seluruh suara dari anggota electoral college darri negara bagian itu, yang terdiri dari 38 anggota.

Hanya negara bagian Maine dan Nebraska yang membagi suara electoral college berdasarkan proporsi suara yang diterima masing-masing calon presiden.

Itulah alasan calon presiden AS focus memenangkan negara bagian yang tidak menyerakhan seluruh suara untuk kandidat yang paling banyak dipilih.

Negara bagian seperti ini dikenal dengan istilah swing state. Memenangkan sebanyak mungkin suara dari setiap negara bagian bukanlah strategi yang biasa dilakukan.

Lalu, bisakah seorang capres memenangkan suara mayoritas tapi tidak terpilih menjadi presiden? Tentu saja bisa.

Sangat mungkin seorang kandidat menjadi yang paling populer secara nasional di kalangan pemilih, namun gagal mendapatkan 270 suaradari anggota electoral college.

Dua dari 5 pilpres AS terakhir dimenangkan oleh kandidat yang tidak mendapatkan suara terbanyak dari masyarakat.

Pada 2018, Donald Trump berselisih 3 juta suara di bawah pesaingnya, Hillary Clinton. Namun Trump mendapat suara terbanyak di electoral college.

Sementara pada tahun 2000, George W Bush mendapatkan 271 suara electoral college. Padahal calon presiden dari Partai Demokrat, Al Gore, mendapat setengah juta suara lebih besar dari masyarakat ketimbang Bush.

Selain Trump dan Bush, terdapat tiga presiden AS lainnya yang memenangkan pilpres walau tidak mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan umum.

Tiga presiden itu menjabat pada abad ke-19, yaitu John Quincy Adams, Rutherford B Hayes dan Benjamin Harrison.

Joe Biden, Calon Pesaing Donald Trump Tahun Ini

Joe Biden marupakan mantan wakil presiden AS yang saat ini mencalonkan ketiga kalinya dalam pemilihan presiden dari partai Demokrat.

Dalam pemilihan pendahuluan kali ini, ia disebut sebagai kandidat paling terkenal dan disukai. Namun, kampanye pria berusia 78 tahun itu terkadang tampak kurang semarak walaupun ia berupaya menjadikan pengalamannya selama 4 dasawarsa di pemerintahan sebagai kekuatan.

Obama menyebutnya sebagai “Wakil presiden terbaik yang pernah dimiliki AS”, namun siapa dia, dan apa yang ada di balik tawarannya?

Delapan tahun mendampingi Obama sebagai wakil Presiden memungkinkannya mengklaim sebagian besar warisan Obama, termasuk pengesahan Undang-undang Layanan Kesehatan, paket stimulus ekonomi, dan reformasi industry keuangan.

Joe Biden, Mantan Wakil Presiden AS Yang Sekarang Mencalonkan Diri

Joe Biden baru saja meraup kemenangan di Sembilan dari 14 negara bagian dalam pemilihan pendahuluan untuk menjadi kandidat calon presiden partai Demokrat untuk menghadapi Donald Trump.

Mantan wakil presiden AS ini meraih suara terbanyak di Minnesta, Oklahoma, Arkansas, Alabama, Tennessee, North California, dan Virginia.

Ada juga senator sayap kiri, Bernie Sanders yang diproyeksikan akan mampu menaklukan Colorado Utah dan negara bagian asalnya, Vermont.

Keduanya saling mengejar untuk menjadi kandidat calon presiden Partai Demokrat dalam menghadapi Presiden Donald Trump, calon Partai Republik.

Biden, sosok moderat yang menjadi wakil presiden di masa Barack Obama, dan Sanders, seorang politikus sayap kiri, menawarkan visi yang sangat berbeda untuk masa depan AS.

Biden berharap dapat memukul momentum kemunculan Sanders, yang merupakan kandidat terkuat secara nasional pada perhitungan suara akhir.

Kampanye Biden, yang dilaporkan kekurangan dana dan sumber daya, mampu bangkit kembali sejak kemenangannya dalam pemilihan utama di Caroline Selatan pada akhir pekan lalu.

Ini merupakan pertama kalinya politikus berusia 77 tahun itu meraih kemenangan dalam tiga kali memperebutkan posisi capres dari Partai Demokrat.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa Biden akan meraup suara terbanyak dari pemilih berlatar Afrika-Amerika, kelompok pendukung yang penting bagi partai Demokrat.

Biden juga kelihatannya akan menang secara meyakinkan di  kalangan pemilih di pinggiran kota, yang menurut jumlah survey, menyebutkan bahwa mereka telah berpaling dari presiden Donald Trump.

Sejumlah laporan menyebutkan, Biden meraih kemenangan sekitar 53% suara di Virginia, sehingga membuat Sanders berada di urutan kedua dengan peroleha suara 23%.

Negara bagian Virginia dan North Carolina menjadi sangat penting karena keduanya merupakan kunci perebutan suara utama dalam pemilu 2020.

Saat ini semua mata tertuju pada dua negara bagian, yang merupakan wilayah dengan pemungutan suara terbesar, yaitu California disusul Texas.

Sanders berharap dapat meraup suara besar di wilayah California, yang disebut sebagai Golden State, setelah hasil survey menunjukan ia akan meraih kemenangan 45% dari kalangan masyarakat Hispanik di Texas, dibandingkan perolehan suara 24% oleh Biden.

Hal baru lain yang muncul dalam pemilihan pendahuluan ini adalah untuk pertama kalinya kemunculan sosok Michael Bloomberg.

Mantan wali kota New York, yang telah menghabiskan lebih dari setengah miliar dolar dari koceknya sendiri diperkirakan akan Berjaya di wilayah AS Samoa Amerika.

Sementara Biden yang menyiapkan langkah-langkah untuk mendapatkan suara dari kalangan Demokrat tengah dengan harapan dapat menyingkirkan Bloomber, salah satu orang terkaya di dunia.

Namun Bloomberg, sang miliarder, tampaknya mampu meningkatkan kinerjanya yang ditandai dengan rencananya untuk lolos hingga ke konvensi partai Demokrat di Milwaukee, Wisconsin.

Donald Trump Minta China Bantu Menangkan Dirinya di Pilpres 2020

Pemilihan presiden merupakan suatu masa yang ditunggu-tunggu. Baik oleh calon maupun oleh masyarakatnya yang menginginkan perubahan.

Namun, sudah menjadi rahasia umum jika pemilihan umum pasti dibumbui dengan sedikit maupun banyak kecurangan di dalamnya.

Tak terkecuali dengan yang dilakukan oleh Presiden dari Amerika Serikat, Donald Trump yang dicurigai melakukan kecurangan.

Tak tanggung-tanggung, ia meminta bantuan China, musuh besarnya untuk membantunya memenangkan pilpres tahun ini.

Lalu, bagaimana hal ini bisa terungkap? Siapa yang mengungkakannya? Dan bagaimana reaksi orang-orang?

Donald Trump Minta China Bantu Menangkan Dirinya di Pilpres 2020

Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton menulis lewat buku barunya bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah meminta bantuan Presiden China XI Jinping agar ia terpilih kembali dalam pemilihan presiden 2020.

Bolton, penasihat dalam kebijakan luar negeri sekaligus penganjur perang yang dipecat Trump atas perbedaan beleid, juga mengatakan bahwa presiden AS itu telah menyatakan keinginannya untuk menghentikan penyelidikan-penyelidikan kriminal untuk memberikan “keberpihakan pribadi kepada para diktator yang dia sukai”.

Pernyataan-pernyataan Bolton itu dikutip oleh koran terkemuka The New York Times, Wall Street Journal, dan Washington Post dari buku bertajuk “The Room Where It Happened: A White House Memoir” yang dipublikasikan pada Rabu.

Gedung putih menyerang Bolton namun tak berkomentar atas isi bukunya. Tuduhan-tuduhan itu merupakan bagian dari sebuah buku yang pemerintah AS pada Selasa tuntut untuk menghadang Bolton menerbitkan bukunya.

Pemerintah berpendapat bahwa buku itu berisi informasi rahasia negara dan akan merongrong keamanan nasional. Pemerintah sedang mengupayakan dengar pendapat dengan pengadilan pada Jumat.

Bersama-sama, koran-koran itu juga menggambarkan seorang presiden AS, yang dicemooh oleh para penasihat utamanya, yang memaparkan dirinya pada tuduhan-tuduhan pelanggaran hukum yang jauh lebih luas dari pada tuduhan yang mendorong DPR yang dikuasai Partai Demokrat untuk memakzulkan Trump tahun lalu.

Senat yang dikuasai Partai Republik membebaskan Trump (dari pemakzulan) pada awal Februari.

Trump dituduh menahan bantuan militer AS tahun lalu untuk menekan Presiden Ukrania yang baru terpilih Volodymir Zelensky agar memberikan informasi yang merugikan lawan politiknya Joe Biden dari Partai demokrat.

“Andaikan penasihat pemakzulan Demokrat tak terobsesi dengan serangan kilat Ukraina 2019, andaikan bersabar untuk menyelidiki lebih sistematis tentang perilaku Trump atas kebijakan luar negerinya yang menyeluruh, hasil pemakzulan mungkin berbeda,” tulis Bolton menurut nukilan dari bukunya yang diterbitkan Wall Street Journal.

Kritikus Bolton mencatat dia menolak bersaksi di depan penyelidikan DPR saat pengungkapannya dapat menjadi penting, alih-alih patuh pada arahan Gedung Putih.

Anggota DPR Adam Schiff, wakil Demokrat California yang memimpin dakwaan terhadap Trump yang anggota Republik, mencela Bolton karena bilang saat itu bahwa “dia akan menuntut jika dipanggil untuk bersaksi.”

“Namun dia menyimpannya untuk sebuah buku,” Schiff mengatakan di Twitter. “Bolton boleh jadi seorang pengarang tapi dia bukan pembela negara.”

Tuduhan-tuduhan Bolton memberikan amunisi baru bagi kritikus menjelang pilpres 3 November, termasuk peristiwa-peristiwa di balik layar mengenai percakapan Trump dengan Xi Jinping yang, dalam satu hal, telah menjadi topik sensitif dalam pemilu AS.

Itulah bagaimana Presiden Trump meminta bantuan kepada China untuk bisa memenangkannya kembali di pemilihan presiden 2020 Amerika Serikat.

Wah, memangnya kenapa trump sampai melakukan hal seperti itu? Bagaimana menurut kalian?

Sistem Pemilihan Presiden di Korea Utara

Warga Korea Utara juga memberikan suara mereka untuk memilih anggota parlemen, yang merupakan pemilihan umum kedua yang digelar sejak Kim Jong Un memimpin negeri itu.

Pemungutan suara untuk Dewan Rakyat Agung (SPA) merupakan suatu kewajiban dan taka da pilihan kandidat di dalamnya. Tak pernah terjadi perbedaan pendapat selama penyelenggaraannya.

Kehadiran pemilih di tempat pemungutan suara hampir selalu mencapai 100% dan kepuasan terhadap sekutu pemerintah tersebut selalu bulat.

Sistem Pemilihan Presiden di Korea Utara

Korea Utara merupakan negara yang terisolasi dan diperintah oleh dinasti keluarga Kim. Rekayta negeri itu diwajibkan untuk mengabdi sepenuhnya kepada keluarga tersebut dan kepada pemimpin yang tengah berkuasa.

Pada hari pemungutan suara, seluruh warga berusia 17 tahun ke atas wajib datang ke TPS dan memberikan suara mereka.

“Sebagai bentuk kesetiaan, kalian diharapkan datang lebih awal, yang berarti aka nada antrean panjang.” Ungkap seorang pengamat Korea Utara, Fyodor Tertitsky, yang bermarkas di Kota Seoul, Korea Selatan.

Saat giliran kalian tiba, kalian akan menerima surat suara dengan hanya satu nama yang terdapat di dalamnya.

Tak ada yang harus diisi, taka da kolom yang perlu kalian contreng. Kalian hanya perlu membawa kertas itu dan memasukkannya ke dalam kotak suara yang diletakkan di tempat terbuka.

Ada juga bilik suara di mana kalian bisa memilih sendirian tanpa terlihat orang, namun hal ini akan langsung menimbulkan kecurigaan, menurut sang pengamat.

Secara teoretis, kalian memiliki hak untuk mencoret kandidat satu-satunya, namun, melakukan hal itu pasti akan membuat kalian diburu polisi rahasia dan kalian kemungkinan akan dinyatakan sakit jiwa.

Setelah kalian meninggalkan TPS, kalian diminta untuk bergabung dengan sekelompok orang yang bersorak di luar untuk mengekspresikan kebahagiaan kaian terkait kesempatan untuk memberikan suara demi kepemimpinan yang bijaksana di negara tersebut.

“Di media-media milik pemerintah, hari pemilu digambarkan sebagai acara yang meriah, dengan orang-orang yang merayakannya di luar TPS-TPS” jelas Monyoung Lee.

Karena memilih adalah suatu kewajiban, maka ajang pemilu juga dijadikan momen sensus penduduk oleh pemerintah untuk memonitor populasi masing-masing daerah pemilihan dan untuk melacak warga yang mungkin telah melarikan diri.

Dewan Rakyat Agung (SPA) merupakan sebuah lembaga tukang stempel tanpa kekuasaan apapun. SPA merupakan satu-satunya lembaga legislative yang ada di Korea Utara.

“saya tahu media internasional kerap menyaring isi laporan mereka dengan mengatakan bahwa SPA punya sedikit kekuasaan atau pengaruh, tapi itu tidak benar. SPA punya nol kekuasaan” ungkap Tertitsky.

Undang-undang pada kenyataannya disusun oleh petugas partai dan disetujui SPA begitu saha sebagai bentuk formalitas: tukang stempel.

Hal ini jauh berbeda dari kekuasaan lebih luas yang secara teoretis sebenarnya dimiliki lembaga tersebut. Dua pertiga suara akan cukup untuk mengubah konstitusi dan jumlah suara mayortas dapat mencabut kekuasaan Kim Jong-un.

Faktanya, SPA bahkan tidak bertemu secara reguler. Pada sidang pertama, mereka akan memilih dan membentuk badan yang lebih kecil untuk bekerja bagi mereka, sementara anggota dewan yang asli hanya akan berkumpul dalam acara-acara khusus.

Dan ternyata, ada tiga fraksi berbeda dalam parlemen. Yaitu Partai Buruh, yang dipimpin Kim Jong-un, sejauh ini merupakan partai terbesar, sementara sebagian kursi lainnya diduduki oleh dua partai lain, yakni Partai Demokrasi Sosial dan Partai Chondoist Chongu.

Pada praktiknya, ketiga partai tak memiliki perbedaan. Ketiganya juga bergabung di bawah Front Demokrasi untuk Reunifikasi Korea.