Donald Trump Minta China Bantu Menangkan Dirinya di Pilpres 2020

Pemilihan presiden merupakan suatu masa yang ditunggu-tunggu. Baik oleh calon maupun oleh masyarakatnya yang menginginkan perubahan.

Namun, sudah menjadi rahasia umum jika pemilihan umum pasti dibumbui dengan sedikit maupun banyak kecurangan di dalamnya.

Tak terkecuali dengan yang dilakukan oleh Presiden dari Amerika Serikat, Donald Trump yang dicurigai melakukan kecurangan.

Tak tanggung-tanggung, ia meminta bantuan China, musuh besarnya untuk membantunya memenangkan pilpres tahun ini.

Lalu, bagaimana hal ini bisa terungkap? Siapa yang mengungkakannya? Dan bagaimana reaksi orang-orang?

Donald Trump Minta China Bantu Menangkan Dirinya di Pilpres 2020

Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton menulis lewat buku barunya bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah meminta bantuan Presiden China XI Jinping agar ia terpilih kembali dalam pemilihan presiden 2020.

Bolton, penasihat dalam kebijakan luar negeri sekaligus penganjur perang yang dipecat Trump atas perbedaan beleid, juga mengatakan bahwa presiden AS itu telah menyatakan keinginannya untuk menghentikan penyelidikan-penyelidikan kriminal untuk memberikan “keberpihakan pribadi kepada para diktator yang dia sukai”.

Pernyataan-pernyataan Bolton itu dikutip oleh koran terkemuka The New York Times, Wall Street Journal, dan Washington Post dari buku bertajuk “The Room Where It Happened: A White House Memoir” yang dipublikasikan pada Rabu.

Gedung putih menyerang Bolton namun tak berkomentar atas isi bukunya. Tuduhan-tuduhan itu merupakan bagian dari sebuah buku yang pemerintah AS pada Selasa tuntut untuk menghadang Bolton menerbitkan bukunya.

Pemerintah berpendapat bahwa buku itu berisi informasi rahasia negara dan akan merongrong keamanan nasional. Pemerintah sedang mengupayakan dengar pendapat dengan pengadilan pada Jumat.

Bersama-sama, koran-koran itu juga menggambarkan seorang presiden AS, yang dicemooh oleh para penasihat utamanya, yang memaparkan dirinya pada tuduhan-tuduhan pelanggaran hukum yang jauh lebih luas dari pada tuduhan yang mendorong DPR yang dikuasai Partai Demokrat untuk memakzulkan Trump tahun lalu.

Senat yang dikuasai Partai Republik membebaskan Trump (dari pemakzulan) pada awal Februari.

Trump dituduh menahan bantuan militer AS tahun lalu untuk menekan Presiden Ukrania yang baru terpilih Volodymir Zelensky agar memberikan informasi yang merugikan lawan politiknya Joe Biden dari Partai demokrat.

“Andaikan penasihat pemakzulan Demokrat tak terobsesi dengan serangan kilat Ukraina 2019, andaikan bersabar untuk menyelidiki lebih sistematis tentang perilaku Trump atas kebijakan luar negerinya yang menyeluruh, hasil pemakzulan mungkin berbeda,” tulis Bolton menurut nukilan dari bukunya yang diterbitkan Wall Street Journal.

Kritikus Bolton mencatat dia menolak bersaksi di depan penyelidikan DPR saat pengungkapannya dapat menjadi penting, alih-alih patuh pada arahan Gedung Putih.

Anggota DPR Adam Schiff, wakil Demokrat California yang memimpin dakwaan terhadap Trump yang anggota Republik, mencela Bolton karena bilang saat itu bahwa “dia akan menuntut jika dipanggil untuk bersaksi.”

“Namun dia menyimpannya untuk sebuah buku,” Schiff mengatakan di Twitter. “Bolton boleh jadi seorang pengarang tapi dia bukan pembela negara.”

Tuduhan-tuduhan Bolton memberikan amunisi baru bagi kritikus menjelang pilpres 3 November, termasuk peristiwa-peristiwa di balik layar mengenai percakapan Trump dengan Xi Jinping yang, dalam satu hal, telah menjadi topik sensitif dalam pemilu AS.

Itulah bagaimana Presiden Trump meminta bantuan kepada China untuk bisa memenangkannya kembali di pemilihan presiden 2020 Amerika Serikat.

Wah, memangnya kenapa trump sampai melakukan hal seperti itu? Bagaimana menurut kalian?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *