Joe Biden, Calon Pesaing Donald Trump Tahun Ini

Joe Biden marupakan mantan wakil presiden AS yang saat ini mencalonkan ketiga kalinya dalam pemilihan presiden dari partai Demokrat.

Dalam pemilihan pendahuluan kali ini, ia disebut sebagai kandidat paling terkenal dan disukai. Namun, kampanye pria berusia 78 tahun itu terkadang tampak kurang semarak walaupun ia berupaya menjadikan pengalamannya selama 4 dasawarsa di pemerintahan sebagai kekuatan.

Obama menyebutnya sebagai “Wakil presiden terbaik yang pernah dimiliki AS”, namun siapa dia, dan apa yang ada di balik tawarannya?

Delapan tahun mendampingi Obama sebagai wakil Presiden memungkinkannya mengklaim sebagian besar warisan Obama, termasuk pengesahan Undang-undang Layanan Kesehatan, paket stimulus ekonomi, dan reformasi industry keuangan.

Joe Biden, Mantan Wakil Presiden AS Yang Sekarang Mencalonkan Diri

Joe Biden baru saja meraup kemenangan di Sembilan dari 14 negara bagian dalam pemilihan pendahuluan untuk menjadi kandidat calon presiden partai Demokrat untuk menghadapi Donald Trump.

Mantan wakil presiden AS ini meraih suara terbanyak di Minnesta, Oklahoma, Arkansas, Alabama, Tennessee, North California, dan Virginia.

Ada juga senator sayap kiri, Bernie Sanders yang diproyeksikan akan mampu menaklukan Colorado Utah dan negara bagian asalnya, Vermont.

Keduanya saling mengejar untuk menjadi kandidat calon presiden Partai Demokrat dalam menghadapi Presiden Donald Trump, calon Partai Republik.

Biden, sosok moderat yang menjadi wakil presiden di masa Barack Obama, dan Sanders, seorang politikus sayap kiri, menawarkan visi yang sangat berbeda untuk masa depan AS.

Biden berharap dapat memukul momentum kemunculan Sanders, yang merupakan kandidat terkuat secara nasional pada perhitungan suara akhir.

Kampanye Biden, yang dilaporkan kekurangan dana dan sumber daya, mampu bangkit kembali sejak kemenangannya dalam pemilihan utama di Caroline Selatan pada akhir pekan lalu.

Ini merupakan pertama kalinya politikus berusia 77 tahun itu meraih kemenangan dalam tiga kali memperebutkan posisi capres dari Partai Demokrat.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa Biden akan meraup suara terbanyak dari pemilih berlatar Afrika-Amerika, kelompok pendukung yang penting bagi partai Demokrat.

Biden juga kelihatannya akan menang secara meyakinkan di  kalangan pemilih di pinggiran kota, yang menurut jumlah survey, menyebutkan bahwa mereka telah berpaling dari presiden Donald Trump.

Sejumlah laporan menyebutkan, Biden meraih kemenangan sekitar 53% suara di Virginia, sehingga membuat Sanders berada di urutan kedua dengan peroleha suara 23%.

Negara bagian Virginia dan North Carolina menjadi sangat penting karena keduanya merupakan kunci perebutan suara utama dalam pemilu 2020.

Saat ini semua mata tertuju pada dua negara bagian, yang merupakan wilayah dengan pemungutan suara terbesar, yaitu California disusul Texas.

Sanders berharap dapat meraup suara besar di wilayah California, yang disebut sebagai Golden State, setelah hasil survey menunjukan ia akan meraih kemenangan 45% dari kalangan masyarakat Hispanik di Texas, dibandingkan perolehan suara 24% oleh Biden.

Hal baru lain yang muncul dalam pemilihan pendahuluan ini adalah untuk pertama kalinya kemunculan sosok Michael Bloomberg.

Mantan wali kota New York, yang telah menghabiskan lebih dari setengah miliar dolar dari koceknya sendiri diperkirakan akan Berjaya di wilayah AS Samoa Amerika.

Sementara Biden yang menyiapkan langkah-langkah untuk mendapatkan suara dari kalangan Demokrat tengah dengan harapan dapat menyingkirkan Bloomber, salah satu orang terkaya di dunia.

Namun Bloomberg, sang miliarder, tampaknya mampu meningkatkan kinerjanya yang ditandai dengan rencananya untuk lolos hingga ke konvensi partai Demokrat di Milwaukee, Wisconsin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *