Konflik Politik Amerika Serikat dan Iran

Konflik Politik Amerika Serikat dan Iran

Konflik Politik Amerika Serikat dan Iran- Sejak Revolusi Iran pada 1979, Iran dan Amerika Serikat kedua negara ini terus berseteru. Pada tahun 2002 hubungan menjadi semakin buruk, melancarkan “serangan” berupa sanksi-sanksi yang kian melemahkan perekonomian Iran.

Hubungan ini semakin besar & memanas setelah AS membunuh Jenderal Tertinggi Iran, Qasem Soleimani pada 3 Januari 2020.

Presiden Donald Trump memerintahkan pembunuhan itu melalui serangan udara di Irak. Melansir CNN, serangan tersebut dinilai para presiden AS sebelumnya sebagai tindakan yang terlalu provokatif.

Konflik Politik Amerika Serikat dan Iran Memanas Amerika Seperti Sekutu Israel

Iran tidak memiliki hubungan baik dengan negara Amerika Serikan, begitu juga sudah menjadi musuh buyut dari Israel. Ketegangan antara Israel dan Iran semakin memanas, Israel baru saja mengumumkan rencana untuk menyerang Iran.

Panglima militer Israel menyatakan telah memerintahkan jajarannya untuk menyusun rencana. Iran langsung merespons, meski menganggap rencana Israel itu hanyalah perang urat syaraf, nyatanya Iran tetap merapatkan barisan untuk pertahanan.

Presiden Iran Hassan Rouhani menyalahkan kehadiran militer Amerika Serikat (AS) sebagai penyebab ketegangan di regional Timur Tengah. Rouhani mengatakan, tindakan AS yang membunuh kepala militer Iran, Qassem Soleimani telah memicu kemarahan negara-negara di kawasan tersebut. Diungkapkan juga melalui berita AS baha Qassem Soleimani ini sering bermain joker123 bersama temannya di Tempat TInggalnya di Iran menggunakan mobile dengan situs joker123 terbaru 2021

Amerika Serikat dan Iran Memanas

Ketika jumlah korban tewas Palestina dari pemboman berkelanjutan Israel di Jalur Gaza meningkat, kemarahan atas penanganan situasi oleh Presiden Biden meningkat. Kematian sang Jenderal yang juga seorang Komandan Pasukan Quds dari cabang Garda Revolusi Iran itu jelas membuat Iran murka dan bersumpah akan membalas dendam.

Pernyataannya itu disampaikan sehari setelah Iran menembakkan rudal ke pangkalan yang menampung pasukan AS. Serangan rudal itu merupakan tanggapan atas kematian Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad, Irak. Dua markas AS yang menjadi sasaran rudal adalah Pangkalan Udara Ain Al Assad.

Baca juga artikel selanjutnya mengenai https://www.jackorswell.com/politikus-hobby-berjudi/

Melalui twit-nya di Twitter, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. “Alll is Well! Rudal diluncurkan dari Iran dan mengenai dua pangkalan militer yang berlokasi di Irak,” tulis Trump.

Memanasnya hubungan Iran-AS juga berdampak pada harga minyak dan saham. Harga minyak minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS melonjak lebih dari 4 persen yang mencapai 71,75 dollar AS atau sekitar Rp 999.248 per barel. Awalnya, minyak mentah berjangka West Tezas Intermediate AS (WTI) 64,36 dollar AS (sekitar Rp 896.328) per barelnya.

Selain itu, pada 4 November 1979, Presiden AS Jimmy Carter membekukan semua harta kekayaan Iran yang berada di wilayah hukum AS. AS pun mengembargo Iran dalam beberapa bidang, dari minyak hingga sanksi pengembangan senjata.