Usaha Megawati Mengganti Demokrasi Indonesia

Pemimpin partai PDI-P, Megawati Soekarnoputri menginginkan agar MPR yang memilih presiden Indonesia berikutnya pada tahun 2024, bukan rakyat.

Ketika putrinya, Puan Maharani kemungkinan akan mencalonkan diri. Meneruskan trah keluarga Soekarno selalu berada di benak Megawati, meskipun sebagai presiden ia jarang berbicara kepada bangsa dan seringkali terlihat tak tertarik dalam urusan pemerintahan Indonesia.

Usaha Megawati Hanya Sekedar Untuk Mempertahankan Struktur Kekuasaan?

Terlepas dari semua perlawanan politiknya yang keras kepala selama bertahun-tahun akhir rezim Orde Baru mantan Presiden Soeharto, pemimpin Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan (PDI-P) ini tidak pernah memenuhi reputasinya yang membingungkan sebagai ikon demokrasi.

Wanita berusia 72 tahun sekaligus putri sulung bapak pendiri bangsa dan Presiden pertama Indonesia, Soekarno itu merupakan mantan presiden yang lebih dikenal karena kalah dalam dua pemilihan presiden langsung.

Megawati juga telah menghindari pemilihan ketua internal untuk partai PDI-P yang terus ia dominasi.

Kini, Megawati tampaknya berniat memutar kembali jarum jam demokrasi dengan mendorong perubahan kenstitusional di MPR untuk memperkenalkan kembali garis Besar Haluan Negara (GBHN) era-Soeharto.

Ia juga memberi celah untuk kembali ke pemilihan presiden secara tidak langsung oleh MPR. Hal ini dikhawatorkan dapat menguntungkan ambisi politik putrinya sendiri, Puan Maharani.

Amandemen terhadap UUD 1945 pada awal era demokrasi Indonesia tahun 1999 –  2002 telah menghapuskan GBHN dan juga sistem sebelumnya dalam memilih seorang presiden di MPR, badan legislative tertinggi di Indonesia.

“Itulah yang telah membuat kami khawatir sejak awal.” Menurut seorang pejabat pemerintah yang memiliki jabatan cukup tinggi, yang mendengarkan dengan cermat pidato Megawati.

“Dia (Megawati) sedang mencoba menciptakan lanskap baru untuk tahun 2024.” Merujuk pada tahun pemilihan presiden dan pemilihan legislative serentak pada periode selanjutnya.

Saat wacana itu bergulir, kemungkinan akan ada daftar panjang calon presiden, sebagian besar mencakup para elit politik dan militer Indonesia yang belum bisa melupakan kemenangan mengejutkan pembuat mebel asal Jawa Tengah yang cerdik, Joko Widodo 2014 lalu.

Tidak seperti Jokowi yang sangat mengandalkan citra sederhana dan merakyat untuk memenangkan masa jabatan kedua lewat pilpres 2019, hampir  tak ada calon presiden generasi baru yang memiliki apa yang diperlukan untuk memenangkan pemilu.

Terutama Puan yang digadang-gadang untuk menjadi ketua MPR yang baru-baru ini diperluas menjadi 575 kursi.

Meneruskan trah keluarga Soekarno selalu berada di benak Megawati, meskipun sebagai presiden dia jarang berbicara kepada rakyat dan lebih sering terlihat tak tertarik dalam urusan pemerintahan.

Meski mengambil langkah untuk mengembalikan pemilihan presiden secara tidak langsung oleh MPR kemungkinan akan memicu kemarahan public.

Seorang politisi Golkar yang berpengalaman percaya bahwa wacana itu tetap dipertimbangkan. “Ini adalah permainan mencoba memanipulasi sistem untuk mempertahankan struktur kekuasaan. Motivasinya jelas ada.”

Terlahir sebagai populis, Jokowi telah menunjukkan pertentangannya terhadap wacana pemilihan presiden oleh MPR.

“Saya terpilih langsung” katanya kepada sekelompok editor Agustus  2019 lalu. “Mengapa saya harus mendukung rencana agar presiden ditunjuk oleh MPR?”.

Menteri perindustrian Airlangga Hartarto, 57 tahun, sekutu Jokowi dan Wasekje Partai Golkar, menghadapi tantangan dari ketua DPR saat ini, Bambang Soesatyo, 56 Tahun yang juga dari Golkar dan didukung Megawati untuk menjadi ketua MPR.

MPR merupakan satu-satunya badan yang dapat mengubah konstitusi Indonesia. Dengan keduanya mengklaim dua per Agus Harimurti Yudhoyonoiga dari 34 cabang provinsi, Airlangga bersikeras mengadakan konvensi lima tahun Partai Golkar bulan Desember 2019.

Sementara itu, Bambang menuntut agar konvensi partai terjadi sebelum pelantikan presiden bulan Oktober 2019, sama halnya dengan PDI-P dan sejumlah partai lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *